<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Klarifikasi:KarenaWanitaInginDimengerti</title>
	<atom:link href="http://aguzz.blog.friendster.com/2007/09/klarifikasikarenawanitaingindimengerti/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aguzz.blog.friendster.com/2007/09/klarifikasikarenawanitaingindimengerti/</link>
	<description>etwas ich gestern getan habe...</description>
	<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 05:28:20 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
		<item>
		<title>By: Calon Dokter</title>
		<link>http://aguzz.blog.friendster.com/2007/09/klarifikasikarenawanitaingindimengerti/#comment-47</link>
		<dc:creator>Calon Dokter</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Sep 2007 04:09:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aguzz.blog.friendster.com/2007/09/klarifikasikarenawanitaingindimengerti/#comment-47</guid>
		<description>Ck..ck..ck,Entah salah atau betul, dirimu sepertinya Sanguinis sekali. Gaya bahasamu itu loh, Mas.Berasa.
Soal wanita-wanita-an yang kamu tulis, saya tidak bisa beri komentar banyak. Mudah-mudahan cukup memuaskan orang-orang yang selalu bertanya dan terjebak dengan pertanyaannya sendiri tentang wanita dan rumah tangga.

Soal ini, saya belajar banyak dari ibu saya.Prinsipnya adalah menikmati karir, bukan meniti karir. Menikmati karir membawa paradigma yang sangat luas.Prestasi yang dicapai saat kita menikmati karir mungkin akan sangat perlahan, tapi sangat terkonsep dan seimbang.

Coba anda bayangkan, ibu saya seorang bidan yang bekerja penuh 23 jam 56 menit dalam sehari dan almost have no weekend. Dan, coba sekarang anda lihat kualitas anak-anak ibu saya.si Sulung hampir jadi dokter, berikutnya jadi ahli komputer dan mulai membangun keamanan finansialnya sendiri, kemudian anak satunya sedang giat berkarya di desain produk ITB, si bungsu aktif di sekolahnya dan memiliki prestasi yang cukup baik. Tak ada yang pernah mencoba narkoba, pandai mengaji, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi.

Maaf, bukan bermaksud pamer, tapi semua itu terbangun karena ibu saya melakukan satu hal, yaitu menikmati karirnya. Jika karir sudah tak terasa nikmat lagi karena keluarga terbengkalai, Mama saya lebih memilih diam sejenak dari karirnya dan memberesi semuanya. Dan tempat untuknya melepas lelah adalah rumah.

Jadi, menurut saya, tidak apa-apa bekerja di luar rumah, tapi kita tetap harus ingat dasar-dasar perjuangan kita. Kalau keluarga bukanlah dasarnya lebih baik berpikir dua kali ketika anda akan menikah. Karena semuanya akan hambar dan tak lebih dari omong kosong belaka.Ketika keluarga menjadi dasarnya, anda pasti tahu apa yang harus anda pilih ketika keadaan memaksa.

Buat standar prestasi sendiri, jangan ikuti standar orang lain. Jika standar orang lain adalah menjadi vice president, anda mungkin cukup jadi manager saja, tapi memiliki anak yang tinggi kualitas akal budinya serta suami yang lembut dan menghormati anda.Jika standar orang lain adalah 20 juta sebulan, anda mungkin cukup dengan 7 juta sebulan, tapi terhibur karena si kecil selalu hangat dan cerdas semakin hari.

Pekerjaan di luar adalah pekerjaan sampingan, pekerjaan sesungguhnya ada dalam rumah. Olah otak anak yang masih mentah selama dia belum terlalu keras, olah hati suami sebelum dia berpaling. Genggam mereka kuat-kuat, karena mereka lebih cepat pergi ketimbang karir anda, karena mereka terlalu berharga dibanding harta anda. Menurut saya, keluarga adalah kekayaan sesungguhnya setelah iman, ilmu, dan amal.

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ck..ck..ck,Entah salah atau betul, dirimu sepertinya Sanguinis sekali. Gaya bahasamu itu loh, Mas.Berasa.<br />
Soal wanita-wanita-an yang kamu tulis, saya tidak bisa beri komentar banyak. Mudah-mudahan cukup memuaskan orang-orang yang selalu bertanya dan terjebak dengan pertanyaannya sendiri tentang wanita dan rumah tangga.</p>
<p>Soal ini, saya belajar banyak dari ibu saya.Prinsipnya adalah menikmati karir, bukan meniti karir. Menikmati karir membawa paradigma yang sangat luas.Prestasi yang dicapai saat kita menikmati karir mungkin akan sangat perlahan, tapi sangat terkonsep dan seimbang.</p>
<p>Coba anda bayangkan, ibu saya seorang bidan yang bekerja penuh 23 jam 56 menit dalam sehari dan almost have no weekend. Dan, coba sekarang anda lihat kualitas anak-anak ibu saya.si Sulung hampir jadi dokter, berikutnya jadi ahli komputer dan mulai membangun keamanan finansialnya sendiri, kemudian anak satunya sedang giat berkarya di desain produk ITB, si bungsu aktif di sekolahnya dan memiliki prestasi yang cukup baik. Tak ada yang pernah mencoba narkoba, pandai mengaji, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi.</p>
<p>Maaf, bukan bermaksud pamer, tapi semua itu terbangun karena ibu saya melakukan satu hal, yaitu menikmati karirnya. Jika karir sudah tak terasa nikmat lagi karena keluarga terbengkalai, Mama saya lebih memilih diam sejenak dari karirnya dan memberesi semuanya. Dan tempat untuknya melepas lelah adalah rumah.</p>
<p>Jadi, menurut saya, tidak apa-apa bekerja di luar rumah, tapi kita tetap harus ingat dasar-dasar perjuangan kita. Kalau keluarga bukanlah dasarnya lebih baik berpikir dua kali ketika anda akan menikah. Karena semuanya akan hambar dan tak lebih dari omong kosong belaka.Ketika keluarga menjadi dasarnya, anda pasti tahu apa yang harus anda pilih ketika keadaan memaksa.</p>
<p>Buat standar prestasi sendiri, jangan ikuti standar orang lain. Jika standar orang lain adalah menjadi vice president, anda mungkin cukup jadi manager saja, tapi memiliki anak yang tinggi kualitas akal budinya serta suami yang lembut dan menghormati anda.Jika standar orang lain adalah 20 juta sebulan, anda mungkin cukup dengan 7 juta sebulan, tapi terhibur karena si kecil selalu hangat dan cerdas semakin hari.</p>
<p>Pekerjaan di luar adalah pekerjaan sampingan, pekerjaan sesungguhnya ada dalam rumah. Olah otak anak yang masih mentah selama dia belum terlalu keras, olah hati suami sebelum dia berpaling. Genggam mereka kuat-kuat, karena mereka lebih cepat pergi ketimbang karir anda, karena mereka terlalu berharga dibanding harta anda. Menurut saya, keluarga adalah kekayaan sesungguhnya setelah iman, ilmu, dan amal.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
